Pada tahun 1886, Henry Becquerel melalui sejumlah percobaan mengamati bahwa garam-garam uranium yang disimpan di bawah sinar matahari memancarkan radiasi yang dapat menghitamkan pelat film fotografi. Percobaan itu dilakukannya untuk menguji hipotesisnya mengenai kemungkinan adanya sinar radiasi lain yang memiliki daya tembus yang sama dengan sinar-x yang baru ditemukan oleh Willhelm Conrad Rontgen.
Pada percobaannya, Becquerel membungkus pelat film fotografi dengan kertas warna hitam, lalu kristal senyawa garam uranium diletakan di atasnya, kemudian benda tersebut disimpannya di bawah sinar matahari. Ketika pelat film fotografinya dicuci, tampak bayangan gambar senyawa kristal garam uranium.
Namun, dalam suatu percobaan yang akan diulanginya lagi, cuaca kota Paris kurang mendukung akibat mendung yang menyebabkan matahari tidak bersinar terang selama beberapa hari. Nampaknya seperti peristiwa sepele saja, namun akibat cuaca mendung itu Becquerel dapat menemukan hal baru dalam era kimia/fisika modern, bahkan menuntun kita pada zaman nuklir.
Cuaca mendung membuat Becquerel menunda percobaannya. Pelat fotografi yang masih terbungkus kertas hitam dan garam uranium disimpannya dalam sebuah laci. Setelah beberapa hari, Becquerel mencuci lempeng pelat fotografi tersebut. Ia memperkirakan hanya akan ada sedikit gambar kristal yang suram, akibat dari sedikit garam uranium yang berpendar dalam laci. Ternyata hasilnya mengejutkan, gambar yang dihasilkan pada pelat film malah sama kuatnya dengan kondisi percobaan sebelumnya ketika pelat fotografi yang terbungkus kertas hitam diletakkan bersama garam uranium di bawah sinar matahari. Berarti, garam-garam uranium memiliki radiasi alami tanpa harus dibantu oleh sinar matahari.
Becquerel menguji semua sampel garam-garam uranium untuk mendapatkan sinar radiasi yang menyinari pelat fotografi, yakni bukan sinar yang biasa. Ia mengukur radiasi sinar baru tersebut menggunakan sebuah elektroskop, karena radiasi sinar akan mengionisasi udara melalui tempat-tempat yang dilewati. Becquerel menemukan tingkat radiasi di semua sampel. Namun, salah satu senyawa pitchblende, menunjukan radiasi yang lebih besar daripada uranium murni. Ia menduga bahwa dalam pitchblende mengandung unsur lain yang memiliki radioaktivitas yang lebih tinggi daripada uranium.
Unsur tersebut berhasil diisolasi oleh keluarga Curie, Marie Curie dan Piere Curie dengan perjuangan yang luar biasa. Unsur baru tersebut dinamakan polonium dan radium, keduanya memiliki tingkat radiokativitas ratusan hingga ribuan kali lebih kuat dibandingkan uranium. Becquerel, Marie Curie, dan Piere Curie bersama-sama mendapatkan hadiah nobel fisika tahun 1903. Peneletian lanjut keluarga Curie tentang radiokimia, mengantarkan Marie Curie mendapatkan hadiah nobel lagi, tapi di bidang kimia pada tahun 1911. Sebuah prestasi hebat, meraih dua hadiah nobel pada dua bidang yang berbeda. Pada era yang sama bandingkan dengan kondisi Indonesia yang baru berprestasi membuat organisasi-organisasi yang mencanangkan nasionalisme perjuangan kemerdekaan. Bung, sudah se-abad lebih, saatnya kita bangkit mengejar ketertinggalan dari bangsa lain.